.
PARIWISATA GORONTALO

Pariwisata di Propinsi Gorontalo dikelompokkan pada 3 jenis usaha pariwisata yaitu usaha pariwisata Pantai, Pariwisata laut dan Pulau serta Pariwisata Alam Pegunungan. Pariwisata Pantai direpresentasikan oleh obyek wisata pantai Bolihutuo (Kabupaten Boalemo) dan Pantai Olele (di Kabupaten Gorontalo). Untuk Obyek wisata laut dan Pulau di wakili oleh obyek wisata Laut Torosiaje (Pahuwato) dan obyek wisata Pulau Saronde. Untuk kategori wisata pegunungan di wakili oleh obyek wisata Taman Nasional Nani Wartabone.

Pemilihan lokasi tersebut dilakukan atas pertimbangan bahwa kawasan tersebut merupakan kawasan yang berpotensi mendatangkan obyek wisata dalam skala usaha wisata. Obyek wisata lain diharapkan mampu mendukung kawasan tersebut, sehingga mendapatkan multiflier effek dari aktivitas wisata.

Beberapa pertimbangan dilakukan kegiatan pengelompokkan wisata ini atas pertimbangan karakteristik dari lokasi wisata. Dengan demikian, akan terdapat kesamaan bentuk-bentuk investasi wisata. Dalam hal ini pertimbangan dasar yang dijadikan sebagai dasar untuk melakukan analisis adalah kebutuhan investasi dari tiap obyek wisata, yang dapat dilayani oleh investor. Investasi publik yang menunjang pariwisata diharapkan menjadi tanggungjawab pemerintah daerah seperti prasarana perhubungan (bandara, jalan), fasilitas umum. Sehingga komponen ini tidak menjadi pertimbangan dalam melakukan analisis investasi wisata oleh investor.

Provinsi Gorontalo memiliki beberapa objek wisata yang cukup menarik dan perlu dikembangkan, antara lain:
- Goa Ular di Kecamatan Batudaa (kira-kira 28 km dari Kota Gorontalo);
- Danau Perintis di Kecamatan Suwawa (18 km dari Kota Gorontalo);
- Taman Laut Pulau Limba di Kecamatan Paguyaman,
- Pulau Bitila di Kecamatan Paguat,
- Pantai Pasir Putih di Kecamatan Tilamuta,
- Air Terjun di Kecamatan Tilamuta,
- Cagar Alam Panua di Kelurahan Libuo,
- Pulau Asiangi di Kecamatan Tilamuta.

Tumbilo Tohe
Budaya pasang lampu “Tumbilo Tohe” yaitu tradisi pasang lampu yang dilaksanakan tiap tahun di bulan puasa, 3 hari menjelang Idul Fitri yaitu pada tanggal 27 Ramadhan. Tradisi tersebut menurut sejarah dimaksudkan untuk memudahkan umat Islam dalam memberikan zakat fitrah-nya pada malam hari. Pada saat itu hampir setiap tempat dipasangi lampu sehingga kota Gorontalo menjadi terang benderang.
Tumbilo Tohe terus dikembangkan sehingga dalam penataannya semakin indah, menarik namun tetap berpegang pada nilai-nilai dan nuansa kebudayaan Islam.

Rumah Adat Dulohupa
Rumah Adat Dulohupa yang merupakan balai musyawarah dari kerabat kerajaan. Terbuat dari papan dengan bentuk atap khas daerah tersebut.
Pada bagian balakangnya terdapat anjungan tempat para raja dan kerabat istana beristirahat sambil melihat kegiatan remaja istana bermain sepak raga. Saat ini rumah adat tersebut berada di tanah seluas + 500m² dan dilengkapi dengan taman bunga, bangunan tempat penjualan cenderamata, serta bangunan garasi bendi kerajaan yang bernama talanggeda. Pada masa pemerintahan para raja, rumah adat ini digunakan sebagai ruang pengadilan kerajaan. Bangunan ini terletak di Kelurahan Limba, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo.
Selain Rumah adat Dulohupa juga ada Rumah Adat Bandayo Pomboide yang terletak di depan Kantor Bupati Gorontalo. Bantayo artinya ‘gedung’ atau ‘bangunan’, sedangkan Pomboide berarti ‘tempat bermusyawarah’ . Bangunan ini sering digunakan sebagai lokasi pagelaran budaya serta pertunjukan tari di Gorontalo. Di dalamnya terdapat berbagai ruang khusus dengan fungsi yang berbeda. Gaya arsitekturnya menunjukkan nilai-nilai budaya masyarakat Gorontalo yang bernuansa Islami.

Benteng Oranye
Benteng Oranye yang terletak di sebelah utara Kota Gorontalo. Benteng Oranye (Orange Fortress) merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang terdapat di Kecamatan Kwandang, kurang lebih 61 km ke arah utara dari Kota Gorontalo.
Benteng ini dibangun oleh bangsa Portugal pada abad ke-17 (tahun 1630); dengan berukuran panjang 40 meter, lebar 32 meter, dan tinggi 5 meter (40×32×5 meter). Benteng ini memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan Benteng Otanaha dan memiliki 178 buah anak tangga.

Benteng Otanaha
Objek wisata ini terletak di atas bukit di Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo. Benteng ini dibangun sekitar tahun 1522.
Sekitar abad ke-15,dugaan orang bahwa sebagian besar daratan Gorontalo adalah air laut. Ketika itu, Kerajaan Gorontalo di bawah Pemerintahan Raja Ilato, atau Matolodulakiki bersama permaisurinya Tilangohula (1505–1585).
Benteng Otanaha terletak di atas sebuah bukit, dan memiliki 4 buah tempat persinggahan dan 348 buah anak tangga ke puncak sampai ke lokasi benteng. Jumlah anak tangga tidak sama untuk setiap persinggahan. Dari dasar ke tempat persinggahan I terdapat 52 anak tangga, ke persinggahan II terdapat 83 anak tangga, ke persinggahan III terdapat 53 anak tangga, dan ke persinggahan IV memiliki 89 anak tangga. Sementara ke area benteng terdapat 71 anak tangga, sehingga jumlah keseluruhan anak tangga yaitu 348.

Monumen Nani Wartabone
Monumen Nani Wartabone dibangun sekitar tahun 1987 pada masa pemerintahan Bapak Drs. A. Nadjamudin sebagai Walikotamadya Gorontalo, tepat didepan rumah Dinas Gubernur Propinsi Gorontalo.
Nani Wartabone adalah putera asli Daerah Gorontalo, yang telah banyak mengabdikan diri sebagai pejuang bangsa dan negara, dalam gerakan patriotisme dalam melawan penjajah. Gerakan patriotisme Rakyat Gorontalo dibawah pimpinan Nani Wartabone, merupakan suatu gerakan yang panjang waktunya melalui kurun waktu dan berbagai macam siasat dan strategi perjuangan, baik yang bersifat legal maupun ilegal.
Seluruh perjuangan rakyat Gorontalo yang bersifat patriotik itu akhirnya mencapai klimasnya pada tanggal 23 Januari 1942, suatu peristiwa heroid yang berhasil menggulingkan Pemerintah Kolonial Belanda, dan berhasil mendirinkan Pemerintahan yang merdeka.
Jiwa patriotisme yang tumbuh dan terpelihara sejak abad ke XVII, berpuncak pada patriotisme 23 Januari 1942, merupakan batu-batu kerikil yang dipersembahkan rakyat Gorontalo dalam batas-batas kemampuannya dalam pembangunan raksasa Republik Indonesia yang lahir pada tanggal 17 Agustus 1945. Jiwa patriotik tersebut muncul dan tumbuh terus dimasa kekuasaan Jepang, bahkan dibina dan diwariskan kepada Generasi yang sedang mengisi kemerdekaan ini.
Monemen Nani Wartabone dibangun untuk mengingatkan kepada masyarakat Gorontalo akan peristiwa bersejarah 23 Januari 1942, dan diharapkan agar bibit buah hasil perjuangan itu akan tumbuh pada jiwa generasi sesudahnya untuk membangun Indonesia tercinta ini dalam mengisi kemerdekaan.

Pentadio Resort
Objek wisata ini diresmikan oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Drs. Jusuf Kalla pada tanggal 25 Februari 2004. Objek wisata yang dibangun dengan biaya Rp 15 miliar dengan dana APB Kabupaten Gorontalo merupakan objek wisata yang bertaraf internasional, dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, serta dikelola secara profesional.Objek wisata ini terletak di Desa Pentadio, Kecamatan Telagabiru, Kabupaten Gorontalo. Lokasinya sangat menarik dan strategis karena terletak di kawasan Danau Limboto. Fasilitas yang ada di Pentadio Resort ini, antara lain, restauran, toko suvernir, kolam renang, pondokan, sauna, air mancar, lokasi pemancingan, dan bak air panas.
Di lokasi ini juga terdapat sumber air panas yang mengalir ke Danau Limboto. Di lokasi tersebut para pengunjung dapat menyaksikan semburan mata air yang cukup panas sehingga dapat digunakan untuk merebus telur hingga matang. Mereka dapat menikmati siraman air dari sumber mata air yang cukup hangat yang sangat bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit kulit.

(gorontaloprov.go.id/indonesia.go.id)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.